BERBURU
MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi
Tugas Mata Kuliah Tela’ah Teks Arab Hukum Ekonomi Syari’ah
Dosen Pengampu: Dr. Muhammad Zayaduz Zabidi
Oleh:
Nur Aini
Joni Andi Irawan
Ririn
Faisol Mubarok
Pilar Iman Hakiki

PROGRAM STUDI HUKUM
EKONOMI SYARI’AH
JURUSAN SYARI’AH
SEKOLAH TINGGI AGAMA
ISLAM NEGERI PAMEKASAN (STAIN)
2016
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur ke
hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada kami, sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Kami menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan, baik materi, maupun cara penulisannya. Namun demikian, kami telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki, sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya, kami dengan
rendah hati dan
dengan tangan terbuka menerima masukan, saran dan usulan guna penyempurnaan
makalah ini.
Dalam makalah ini, kami membahas beberapa persoalan
teks al-Quran yang berkenaan dengan berburu yang pada zaman
sekarang sangat
digemari oleh kalangan. Mudah mudahan dengan makalah
ini, dapat memberikan motifasi pada generasi muda, umumnya untuk mengaplikasikan apa yang ada dalam
makalah ini.
Pamekasan,
17 Mei 2016
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................... 1
1. Latar
Belakang.......................................................................................... 1
2. Rumusan
Masalah..................................................................................... 1
3. Tujuan Penulisan....................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN..................................................................................... 2
1. Pengertian
Berburu (As-Shoid) ................................................................. 2
2. Dalil disyari’atkannya
berburu ................................................................. 2
3. Makna Mufradat....................................................................................... 3
4. Munasabah
ayat.................................................................................... .... 5
5. Asbab
Al-Nuzul.................................................................................... .... 5
6. Tafsir
Al-Ayat...................................................................................... .... 6
7. Kandungan
Hukum.............................................................................. .... 8
BAB III PENUTUP............................................................................................. 9
1. Kesimpulan........................................................................................... .... 9
2. Saran..................................................................................................... .... 9
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... .... 10
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kecendrungan manusia dalam mengikuti hawa nafsu sangat
lah tinggi dan sangat sulit untuk dikendalikan, oleh karena itu memerangi hawa
nafsu ini adalah bentuk perang yang sangat dahsyat.
Kecendrungan ini biasanya untuk melakukan hal-hal yang
dapat menyenangkan diri sendiri. Banyak
sekali perbuatan manusia yang mungkin sebagi kesenangan diri, yang mungkin
dengan itu dapat membuat pikiran tenang, salah satu
contohnya; berburu.
Berburu
adalah kegiatan mencari biantang untuk dibunuh atau ditaklukkan, baik tujuan
itu untuk dimakan atau hanya sekedar peghilang jenuh. Karena biasanya orang
yang sampai hoby memburu dengan mendapatkan sasaran buruannya dia merasa
bangga, padahal seharusnya kita sebagai manusia haruslah memperhatikan makhluk
yang ada disekeliling kita untuk kita lindungi.
Oleh
karena itu dalam pembahsan kami ini akan membahas tentang berburu, bagimana
sebenarnya berburu itu? Bolehkah secara syari’at islam yang sudah biasa
dilakukan oleh ummat islam, atau mungkin sebaliknya hukum berburu itu tidak boleh.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud berburu?
2.
Bagaimana status hukum
berburu?
3.
Apa dalil al-Qur’an yang
mendasari berburu?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui status hukum berburu.
2. Sebagai salah satu pemenuhan tugas mata kuliah telaah teks arab
hukum ekonomi syari’ah.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Berburu (Al-Shoid)
Berburu secara etimologi adalah berasal dari shoda yasidu, yang
artinya buruan atau hewan yang diburu man kata ini daimutlakkan atar bentuk maf’ulnnya.
Sedangakan secara terminologi berburu adalah seperti yang dipaparkan Imam
Al-Kasani ialah nama bagi hewan yang liar yang tidak mungkin diperolhnya
kecuali dengan siasat/muslihat.
Sedangkan menurut Imam
Al-Buhuty ialah membidik hewan yang liar yang tidak dimiliki oleh orang lain
dari tempat persembunyian.[1]
B.
Dalil disyari’atkannya Berburu
Adapun dalil yang mendasari berburu ialah dari
al-kitab dan as-sunah
1. Dalil dari Al-Kitab
أُحِلَّتْ لَكُمْ
بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ
وَأَنْتُمْ حُرُمٌ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ }المائدة/{11[2]
Artinya: Dihalalkan bagimu
binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu)
dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya
Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.
وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا} المائدة/2{
Artinya: dan
apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu.
2.
Dalil dari As-Sunnah
عن أَبي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ قال: أَتَيْتُ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا
بِأَرْضِ قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ نَأْكُلُ فِي آنِيَتِهِمْ وَأَرْضِ صَيْدٍ
أَصِيدُ بِقَوْسِي وَأَصِيدُ بِكَلْبِي الْمُعَلَّمِ أَوْ بِكَلْبِي الَّذِي
لَيْسَ بِمُعَلَّمٍ فَأَخْبِرْنِي مَا الَّذِي يَحِلُّ لَنَا مِنْ ذَلِكَ قَالَ
أَمَّا مَا ذَكَرْتَ أَنَّكُمْ بِأَرْضِ قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ
تَأْكُلُونَ فِي آنِيَتِهِمْ فَإِنْ وَجَدْتُمْ غَيْرَ آنِيَتِهِمْ فَلَا
تَأْكُلُوا فِيهَا وَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَاغْسِلُوهَا ثُمَّ كُلُوا فِيهَا
وَأَمَّا مَا ذَكَرْتَ أَنَّكَ بِأَرْضِ صَيْدٍ فَمَا أَصَبْتَ بِقَوْسِكَ
فَاذْكُرْ اسْمَ اللَّهِ ثُمَّ كُلْ وَمَا أَصَبْتَ بِكَلْبِكَ الْمُعَلَّمِ
فَاذْكُرْ اسْمَ اللَّهِ ثُمَّ كُلْ وَمَا أَصَبْتَ بِكَلْبِكَ الَّذِي لَيْسَ
بِمُعَلَّمٍ فَأَدْرَكْتَ ذَكَاتَهُ فَكُلْ
Artiya: Dari Abu Tsa'labah Al Khusyani RA, dia
berkata, "Saya pernah menemui Rasulullah SAW seraya berkata, 'Ya
Rasulullah, saya adalah orang yang hidup di negeri kaum Ahli Kitab. Saya makan
dengan menggunakan bejana mereka. Di sana saya biasa berburu; terkadang dengan
panah, terkadang dengan menggunakan anjing saya yang telah terlatih, dan
terkadang dengan menggunakan anjing saya yang belum terlatih. Oleh karena itu,
tolong jelaskan kepada saya apa yang boleh dan halal untuk saya dari semua hal
yang telah saya sebutkan.' Mendengar pernyataan Abu Tsa'labah itu, Rasulullah
pun berkata, "Apa yang telah kamu katakan bahwasanya kamu hidup di
negeri kaum Ahli Kitab. Lalu kamu makan dengan memakai bejana mereka. Akan
tetapi, jika kamu masih mampu untuk mendapatkan bejana yang lain, maka
sebaiknya kamu jangan makan dengan menggunakan bejana mereka. Namun jika kamu
terpaksa harus menggunakan bejana tersebut karena kamu tidak mendapatkan
pilihan lain, maka sebaiknya kamu sucikan terlebih dahulu bejana itu sebelum
kamu gunakan untuk makan. Sedangkan mengenai masalah berburu di tanah
perburuan, sebelum membidikkan anak panahmu ke arah binatang buruan tersebut
maka sebaiknya kamu membaca basmalah terlebih dahulu, kemudian barulah kamu
makan binatang hasil buruanmu itu. Mengenai hasil buruan yang kamu dapatkan
dengan menggunakan anjingmu yang sudah terlatih, maka bacalah basmalah dan
setelah itu makanlah! Adapun hasil buruan
yang kamu dapatkan dengan menggunakan anjingmu yang belum terlatih, jika kamu
dapat menyembelihnya, maka kamu boleh memakannya.'''''' (Muslim 6/58-59). [3]
C.
Makna Mufradat
المفردة اية الاولى
Arti Mufradat
|
Teks
|
Dihalalkan
|
أُحِلَّتْ[4]
|
Bagi kamu
|
لَكُمْ
|
Binatang
|
بَهِيمَةُ
|
Ternak
|
الْأَنْعَامِ[5]
|
Kecuali
|
[6] إِلَّا
|
Sesuatu
|
مَا[7]
|
Dibacakan
|
يُتْلَى
|
Atasmu
|
عَلَيْكُمْ
|
Selain
|
غَيْرَ[8]
|
Menghalalkan
|
مُحِلِّي
|
Berburu
|
[9] الصَّيْدِ
|
Dan kamu
|
[10] وَأَنْتُمْ
|
Dalam keadaan
ihram
|
حُرُمٌ
|
Sesungguhnya
|
إِنَّ[11]
|
Allah
|
اللَّهَ
|
Menghukumi
|
[12] يَحْكُمُ
|
Sesuatu
|
مَا
|
Menghendaki
|
[13] يُرِيدُ
|
المفردة اية الثانية
Arti Mufradat
|
Teks
|
Ketika
|
وَإِذَا
|
Halal/tahallul
|
|
Berburu
|
فَاصْطَادُوا
|
D.
Munasabah Al-Ayat
Pada akhir surat Al-Maidah Allah menyatakan dirinya sebagai pemilik
kerajaan langit, bumi dan isinya, sekaligus menguasai dan mengaturnya sesuai
kehendaknya. Maka awal surat Al-An’am Allah memuji dirinya karena dialah yang
telah menciptakan langit, bumi dan isinya serta segala peristiwa yang terjadi
didalamnya.[15]
E. Asbab
Al-Nuzul
Ibnu Jabir meriwayatkan dari Ikrimah, dia berkata: “Al-Hutham bin Hinduwal
Bakri datang ke Madinah dengan beberapa untanya yang membawa bahan makan untuk
dijual. Kemudian dia mendatangi Rasullah, dan menawarkan barang dagangannya,
setelah itu dia masuk islam. Ketika dia keluar dari tempat Rasulullah, beliau
bersabda kepada orang-orang yang ada didekat beliau,‘ dia datang kepadaku
dengan wajah orang yang jahat. Lalu dia pergi dengan punggung seorang
pengkhianat.’ Ketika Al-Hatham sampai ke Yamamah, dia keluar dari islam
(murtad). Ketika bulan Dzul Hijjah, dia pergi ke Mekkah dengan rombongan
untanya yang membawa bahan makanan. Ketika orang- orang Muhajirin dan
orang-orang Anshar mendengar berita kepergian Al-Hatham ke Mekkah, mereka pun
bersiap-siap untuk menyerang kafilah untanya. Maka Allah menurunkan firman-Nya,
‘Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah melanggar syiar- syiar kesucian
Allah..’ Akhirnya, mereka tidak jadi melakukan hal itu.”
Ibnu Jabir juga meriwayatkan dari As-Suddi hadist yang serupa denggannya.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Zaid bin Aslam, dia berkata, “Rasulullah dan para
sahabat berada di Hudaibiyah ketika orang-orang musyrik menghalangi mereka pergi
ke Baitullah. Hal itu membuat marah para sahabat. Ketika dalam keadaan demikian,
beberapa orang musyrik dari daerah timur melintasi mereka menuju Baitullah
untuk melakukan umrah. Para sahabat berkata, ‘kita halangi mereka agar tidak
pergi ke Baitullah, sebagaimana mereka menghalangi kita. Lalu Allah menurunkan
ayat-Nya: ‘.. janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena
mereka menghalang- halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya
(kepada mereka)."[16]
F.
Tafsir Al-Ayat
Adapun penafsiran mufassir terhadap
ayat; أُحِلَّتْ
لَكُمْ بَهِيمَةُ الْأَنْعامِ إِلَّا ما يُتْلى عَلَيْكُمْ
“Dihalalkan
bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu” artinya
dihalalkan bagi manusia mengkonsumsi binatang ternak melalui proses sembelihan
secara syari’at islam. kecuali hewan yang
diharamakan.[17] atau hewan
yang diharam kan allah dengan proses matinya hewan itu semisal; memakan (bangkai, darah, daging
babi,) daging hewan (yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik,
yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas,
kecuali yang sempat
kamu menyembelihnya.[18] Jelas dalam
ayat diberi qoyyid (pembatasan) dengan menggunakan istisna’ agar
tidak semutlak itu untuk memahami sebelumnya yaitu; أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الْأَنْعامِ yang memang timbulnya istisna’nya dari lafad ini.
Menurut M. Quraish Shihab yang dimaksud dengan الانعام dalam ayat ini adalah unta, sapi dan kambing.
Makna tersebut kemudian diperluas sehingga mencakup semua binatang atau burung
dan unggas yang memakan tumbuuh-tumbuhan dan tidak ada keterangan agama yang
mengaharamkannya. Ada juga ulama yang membatasi kata ini dalam pengertian “
segala binatang darat dan laut yang berkaki empat.” Ada juag yang berpendapat
juag bahwa yang dimaksud dengan bahima al-an’am adalah janin yang telah
mati dan keluar atau dikeluarkan dari perut binatang yang telah disembelih
secara sah. Ini, menurut al-Alusi dalam tafsirnya ruh al-ma’ani, adalah
pendapat imam syafi’i.[19]
Selanjutnya tafsir ayat,
غير محلي الصيد أنتم
حرم “dengan tidak menghalalkan
berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji” ini adalah qayyid
atas qayyid yang mana qayyid itu adalah semua jenis binatang diharamkan untuk diburu bagi seorang yang
dalam keadaan ihram atau haji baik untuk dikonsumsi atau lainnya.[20]
إِنَّ
اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ . merupakan penguat terhadap hukum islam, bahwa Allah
memberikan sebuah hukum berdasarkan pengetahuan dan hikmah dan kemaslahatannya.
Sedangkan
ayat; وَإِذا
حَلَلْتُمْ فَاصْطادُوا
“dan
apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu” menurut
mufassir, kebolehan dari ayat ini ketika seorang telah melakukan ihram serta bertahallul dan sudah keluar dari tanah
haram, maka boleh lah melakukan berburu atinya kembali kepada hukum sebelumnya yang
mana sebelumnya berburu itu boleh ketidak bolehan tersebut dikarenakan dalam
keadaan ihram, barulah setelah itu kita diperbolehkan berburu dengan
kehendaknya dan orang itu tidak ada dosa sekalipun memakannya.
Ini adalah
perintah stelah adanya larangan, bahkan menurut pendapat yang shohih, hukum
dikembalikan pada asal sebelum dilarang, jika sebelum wajib maka dikembalikan
pada wajib,ketika sunah dikembalikan pada sunnah atau mubah maka dikembalikan
pada mubah pula, berarti yang dihalalkan ketika dalam keadaan selain haji,
umrah. [21]
Menurut imam
malik konsep الامر pada asalnya menuntut
wajib, namun dalam ayat ini dipahami ibaha dari penalaran kepada makna
dan ijma’ tidak dilihat dari bentuk amr-nya. Dan dikhususkan pada
menyebut berburu saja karena orang-orang pada kebanyakan lebih menyukai hal
itu. [22]
Ayat ini
sangat berkaitan dengan ayat sebelumnya, yaitu; غَيْرَ مُحِلّى الصيد وَأَنتُمْ حُرُمٌ artinya pencegah dari bolehnya
berburu itu adalah ihram, sehingga ketika pencegah itu hilang (ihram)
maka harus dibuang tuntutan pencegahan yang ada pada mani’ tersebut.[23]
G.
Kandungan Hukum
Dari proses telaah ayat al-Qur’an surat Al-maidah diatas maka
hukum berburu adalah boleh, karena dalam kaidah fiqih disebutkan; أن
الأمر بعد الحظر للإباح “perintah setelah
terlarang yang pada mulanya boleh maka menunjukkan pada boleh”.[24]
Sedangkan menurut Wahbah Az-Zuhaili melihat pada ayat tersebut dapat diambil
kandungan hukum sebagai berikut:
1.
Halalnya memakan binatang ternak dengan metode
penyembelihan secara syari’at islam.
2.
Mengecualikan keadaan ihram pada hewan buruan atau
berada ditanah haram.
3.
Bolehnya melakukan berburu binatang bagi seorang yang
tidak dalam keadaan ihram ditanah haram.[25]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Berburu ialah membidik hewan yang liar yang tidak
dimiliki oleh orang lain dari tempat persembunyian.
2.
Adapun hukum berburu diperkenankan, kecuali bagi
seorang yang sedang melaksanakan ihram, Haji dan Umrah.
3.
Dalil al-Qur’an yang mendasari kebolehan berburu ialah
surat al-Baqarah ayat: 1-2.
B.
Saran
Meskipun dari proses telaah sudah
menghasilkan kebolehan berburu, saran kami dalam berburu haruslah dengan etika
yang baik, jangan sampai menyiksa hewan dalam pemburuan .
DAFTAR PUSTAKA
Ibn Umar Ibn Hasan Ibn Husain Al-Taimi Al-Rasy
( Fahruddin Al-Rasy), Abu Abdillah Muhammad. tafsir al-rasy, Juz. 5. Maktabah
Syamile, Isdar Al-Tsani.
Muhammad Bin Abdum
Mu’in, Abu Bakar Bin . Kifayah
al-akhyar, juz. 1. Maktabah
Syamile, Isdar al-Tsani.
Al-khatib, Adbul Karim. Al-Tafsir Al-Qur’an Li
Al-Qur’an, Juz. 3. (Maktabah Syamile, Isdar Al-Tsani). Hlm. 1024.
Mustafa al-Maraghi, Ahmad. Tafsir
Al-Maraghi,Juz. 10. Maktabah Syamile, Isdar Al-Tsani.
Zainuddin, Ahmad. Tarjemah Al-Qur’an Bi Lugh
Al-Malaisia, Juz. 1. Maktabah Syamile, isdar al-tsani.
Al-Hafidz Al-Mundziri & Saikh Muhammad Nasiruddin Al-Bani, Mukhtashar
Shahih Muslim, Sofwer Ebook.
Majmu’ah Al-Mukminin, Wizarah Al-Auqhaf Wa Al-Shu’un Al-Islami Al-Mausu’ah Al-fiqhyah Al-khutubiyah, Juz. 28 Maktabah Syamile, Isdar Al-Tsani.
Al-Ibyari, Ibrahim. al-Mausu’ah
al-Qur’aniyah, Juz. 1. Maktabah Syamile, Isdar Al-Tsani.
Al-Sayis, Muhammad Ali. Tafsir ayat
Al-Ahkam, Juz. 1. (Maktabah Syamile, Isdar Al-Tsani.
Shihab, M.Quraish. Tafsir Al-Misbah: pesan,
kesan dan keserasian al-Qur’an, Juz. 3. Jakarta: Lentera Hati, 2002.
Musthafa khan & Musthafa al-bagha, Fiqh
Manhaji, Juz 3. Maktabah Syamile, Isdar Al-Tsani.
Mustafa Az-Zuhaili, Wahbah Bin. Tafsir
Munir, Juz. 6. Libanon: Darl Al-Fikr, tt.
Zainal Abiding Munawwir & Ali Ma’sum, Kamus
Al Munawwir, Surabaya: Pustaka Progresif, 1997.
Chairam.blogspot.com.
[1]
Majmu’ah
Al-Mukminin, Wizarah Al-Auqhaf Wa Al-Shu’un Al-Islami, Al-mausu’ah Al-fiqhyah
Al-Khutubiyah, Juz, 28 (Maktabah Syamile, Isdar Al-Tsani). Hlm. 113.
[2]
Musthafa
Khan & Musthafa Al-Bagha, Fiqh Manhaji, Juz 3,(Maktabah Syamile, Isdar Al-Tsani) Hlm.33.
[3]
Al-Hafidz Al-Mundziri &
Saikh Muhammad Nasiruddin Al-Bani, Mukhtashar Shahih Muslim, (Sofwer
Ebook), Kitab 38.
[5]
الانعام kata jamak dari نعم dengan dua fathah, yang arti pada
umumnya adalah unta, namun yang dikehendaki dalam hal ini ialah mencakup unta,
sapi dan kambing. Lihat. Muhammad Ali al-Sayis, Tafsir ayat Al-Ahkam, Juz.
1. (Maktabah Syamile, Isdar Al-Tsani). Hlm. 339.
[6]
Ini merupakan alat pengecualian (adat al-istisna’)
[7]
Status ما
dalam ayat ini dibaca nasab menjadi
istisna’ dari lafad بهيمة
atau di baca rafa’ menjadi sifat ddari lafad بهيمة. Hal ini lihat. Wahbah Bin Mustafa
Az-Zuhaili, Tafsir Munir, Juz. 6, (maktabah syamile, isdar al-tsani).
Hlm. 63.
[8]
Status lafad غير menjadi hal
dari lafad sebelumnya yaitu lafad اوفوا .
lihat. Ibrahim Al-Ibyari, al-Mausu’ah al-Qur’aniyah, Juz. 1, (Maktabah
Syamile, Isdar Al-Tsani).hlm. 1427.
[9]
Bentuk ketiga dari kata صاد
[10]
Lafad وانتم
حرم merupakan jumlah
ismiah dengan mahal nasab atas menjadi hal dari dhomir fa’il محلي. lihat
pada tafsir munir. Hlm. 63.
[11]
Kata penguat yang mempunyai banyak saudara.
[12]
Bentuk kedua dari kata hakama
[13]
Bentuk kedua dari kata اراد
[14]
Asal kata dari halala yang bersambung dengan domir rafa’mutaharriq
[15]
Chairam.blogspot.com. diakses tanggal 20/05.2016.
[16]
Wahbah Bin Mustafa Az-Zuhaili, Tafsir Munir, Juz. 6. Libanon: darl
al-fikr, tt.). Hlm. 63.
[17]
Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi,Juz. 10. (Maktabah Syamile,
Isdar Al-Tsani). Hlm. 110.
[18]
Ahmad Zainuddin, Tarjemah Al-Qur’an Bi Lugh Al-Malaisia, Juz. 1.
(maktabah syamile, isdar al-tsani). Hlm. 221.
[19]
M.Quraish Shihab, tafsir al-misbah: pesan, kesan dan keserasian al-Qur’an, Juz.
3. (jakarta: lentera hati, 2002). Hlm. 7-8.
[20]
Adbul Karim al-khatib, Al-Tafsir Al-Qur’an Li Al-Qur’an, Juz. 3.
(Maktabah Syamile, Isdar Al-Tsani). Hlm. 1024.
[21]
Wahbah Bin Mustafa Az-Zuhaili, Tafsir Munir, Juz. 6. Libanon: darl
al-fikr, tt.). Hlm. 68.
[22]
Ibid. Hlm. 73-74.
[23] Abu Abdillah Muhammad Ibn Umar Ibn Hasan Ibn Husain
Al-Taimi Al-Rasy ( Fahruddin Al-Rasy), tafsir al-rasy, Juz. 5. (Maktabah
Syamile, Isdar Al-Tsani).hlm. 460.
[24]
Abu bakar bin Muhammad bin abdum mu’in, Kifayah al-akhyar, juz. 1. (Maktabah Syamile, Isdar
al-Tsani). Hlm. 677.
[25]
Wahbah Bin Mustafa Az-Zuhaili, Tafsir Munir, Juz. 6. Libanon: Darl Al-Fikr,
tt.). Hlm. 70.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar